Andai kamu tahu masa depan kamu, apa yang kamu lakukan?

#BelajarMenulis #MotivasiSendiri

Cukup menarik judulnya ya? Kalau saya tahu masa depan saya apa yang akan saya lakukan? Saya sih akan menjawab dengan jawaban singkat. DIAM.

Misalnya saya sudah tahu masa depan saya, di masa depan saya menjadi orang beriman, kaya, dermawan, baik hati dan suka menolong. Sementara kamu masa depannya menjadi orang miskin, pelit, sombong dan tidak senang menolong orang. Dengan diam pun saya bisa menjadi orang kaya, sementara kamu walaupun berusaha sekuat tenaga tetap aja jadi miskin. Kok saya menjadi kaya, kamu menjadi miskin? Suka-suka saya dong saya kan yang nulis….

Terus?

Saya harus berbaik sangka pada Allah SWT. Karena Allah SWT tidak memberi tahu masa depan saya dengan jelas, atau mungkin saya dilupakan masa depannya padahal saya sudah di beri tahu saat saya belum lahir. Bahwasanya saya termasuk pada golongan orang yang beriman, kaya, dermawan, baik hati dan suka menolong. Makanya saya harus belajar dan mencari jalan agar apa yang saya sangkakan menjadi kenyataan. Tentu saja saya harus berserah diri dan bersabar dengan hasil apapun.

Terus?

Ya dikarenakan saya termasuk orang beriman maka saya harus menghindari hal-hal atau perbuatan yang merusak iman. Saya tahu saya menjadi orang kaya maka saya harus melakukan hal-hal yang bisa membuat saya kaya, salah satunya dengan perbanyak bersedekah/memberi, dan saya harus baik hati, suka menolong mulai sekarang.

Saya harus yakin saya pasti bisa, karena saya punya Allah SWT. Keyakinan menjadi kenyataan.

Tulisan ini bisa di lihat juga di weblog saya: https://hasannuh.wordpress.com/

Kalau mau main silahkan datang saja ke Percetakan NPK – Niaga Printing Karawang

Andaikan hari ini ada yang memberikan kamu uang 100 juta apa yang akan anda lakukan?

Kalau kamu bingung jawabnya itu artinya kamu tidak pernah merencanakan hidupmu menjadi orang kaya, baru di kasih 100 juta aja bingung buat apa. Apalagi di kasih ratusan juta tanpa syarat.

Pernah lihat kan acara di televisi ‘Uang Kaget’ bagaimana reaksi orang-orang yang punya rencana dan yang tidak. Apa yang di belanjakan oleh orang yang benar-benar kaget tidak pernah membayangkan dapat uang 10 juta dengan orang-orang yang sudah punya rencana untuk kehidupannya.

Saya pernah membuat grup-WA di dalam nya orang-orang yang bisa menjawab dengan cepat, apa yang anda lakukan saat ada yang memberi uang seratus juta. Ada yang menjawab dengan bercanda, ada yang sangat serius , ada yang ragu dan ada juga yang bingung. Dan saya pilih orang-orang yang menjawab dengan serius serta mempunyai rencana terhadap uang seratus juta.

Di dalam grup WA itu saya tantang mereka untuk membuat proposal bisnis, seandainya saja ada yang memberi uang 500 juta. Dalam grup WA saya tidak mengatakan ‘seandainya’ , yang saya katakan : “Hari ini kalian mendapat uang 500 juta, apa yang akan kalian lakukan dengan uang itu.”

Dalam satu minggu semua bisa membuat proposal bisnis senilai 500 juta, bahkan ada yang merasa kurang. Tetapi ada yang lucu , satu orang tidak bisa membuat proposal bisnisnya. Siapa itu? Anda tahu siapa itu?

Ya. saya sendiri. 😀 Saya tidak pernah merencanakan hidup saya apalagi , membuat rencana bisnis senilai 500 juta. Kenapa karena sehari-hari saya tidak pernah berhubungan dengan uang ratusan juta. Paling besar dalam bayangan saya 5 juta saja sudah besar. Itu dulu ya ….

Sekarang bagaimana?

Setahun yang lalu saya menantang diri saya, melewati batas kemampuan. Jadi orang gila…kata orang yang saya curhati.

Coba saja bayangkan yang tadinya hidup nyaman tanpa beban utang yang besar, rumah bukan cicilan, pendapatan 50ribu sehari sudah cukup untuk kebutuhan harian rumah tangga berbalik arah, dengan menjual rumah lunas menjadi rumah over kreditan senilai 600 juta. Anda pasti tahu angsuran rumah komersil perbulannya berapa kan?

Saya hanya percaya, “Allah tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambanya.” Benarkan? itu yang menguatkan saya. Tetapi apa yang terjadi setelah menjalaninya selama satu tahun ini? Anda tahu selanjutnya seperti apa?

Lho kok kenapa jadi curhat??? Wasalam berlanjut ya…

Sebenarnya saya sedang belajar menulis, seperti apa yang Dr Pennebaker bilang ;”Anda tidak usah tertalu memikirkan masalah tata bahasa, ejaan, ataupun struktur kalimat ketika menulis. Anda juga harus membebaskan diri Anda. terserah kepada anda untuk menulis apa saja yang anda inginkn. Yang penting anda merasa nyaman dan tekanan anda hilang ketika menulis”. – diambil dari Buku Mengikat Makna Update-nya Bapak Hernowo halaman 46.

Iraha Uing Kos Si Eta

Kamana si Eta-nya, Uing hayang ‘curhat bahagia’ teh hese ari keur usum corona mah.

Uing sih maklum, si Eta mah di imah wae ge teu masalah sembako tinggal menta dikirimkan, usaha na jalan sorangan teu kudu di tungguan. Duitna nyalampeurkeun aya nu ka imahna langsung, aya nu asup ka rekening bank na. Rupa2 lah ari si Eta mah.

Karyawan na ge hirupna di jamin moal sangsara pisan. Nu penting mah di gawena jujur jeung rajin weh. Kitu ceunah, uing ge nyahona ti karyawan nu di gawe jeung manehna geus lila, ti harita di gawe na ge leumpang ayeuna boga kendaraan nu di beulikeun tunai ku si Eta. Nu tadina teu boga imah, di beulikeun imah, nu can kawin ge di kawinkeun ku si Eta mah. Teu kudu ngadongeng heula mun aya kaperluan teh. Can ngomong ge langsung golosor weh duit teh. 😀

Nah ayeuna keur usum bagi2 sembako , si Eta mah ti baheula ge boga prinsip kudu bisa bagi-bagi rejeki ka minimal 40 rumah nu deukeut jeung imah manehna. Ulah ngan ukur sembako wungkul ceunah mah mun bisa kudu lengkap jeung nu sejena. Ulah ngan saukur mun usum doang karak tergerak bagi2 rejeki teh.

Si Eta mah mun aya nu curhat can meunang bantuan ti pamarentah lainan nyinyir ka pamarentah, langsung ku si Eta di bere bantuan sacukupna. Resep pisan Uing mah ka si Eta teh.

Ayeuna Uing aya ka bungah, sok tara aya wae, tara bisa ngamprokan. Ngan pas Uing keur aya pangabutuh weh, sok jol weh datang…

Iraha Uing kos si Eta,,,,

Mouse Autoclick – Hover click stop. Mousenya ngeklik sendiri.

Beberapa minggu belakangan ini saya di repotkan sama saya punya mouse, gimana gak merepotkan mousenya kalau di simpan di atas tombol langsung deh ada animasi ngeklik sendiri. Hadeuh …. kerjaan jadi terganggu. Saya kira mousenya yang rusak, jadi ganti mouse eh tetap saja autoclick sendiri.

Saya pakai Ubuntu 18.04 apakah mungkin ada error di software ubuntunya, saya update terus tetap aja masalah mouse ini ga selesai juga.

Hari ini mah sengaja saya searching di google, ternyata ada juga yang punya masalah sama. Dan solusinya ada di Universal Access -> Pointing & Clicks tab -> Clicks Assist dan pilih Off untuk Hover clicknya.

Eng ing eeeeng….. sip deh.

Universal Access
Hover Click OFF

Selesai dah… langsung dokumentasi di blog. 😀

Obrolan Lapak : Hutang Untuk Modal Usaha Bag.3

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi #CeritaZamanNow

oleh Hasannuh BZ

Cerita kemarin belum selesai karena Kang Hatta belum memberikan jawaban dan alasannya. Jadi Kang Dana juga masih penasaran, apalagi yang punya lapak Kang Dudung yang selalu curi-curi dengar sambil melayani pembelinya.

Kang Hatta melanjutkan, “Saya setuju dengan kata Kang Dede. Sebaiknya memang kalau memulai usaha itu di mulai dari modal sendiri, modal bisa berbentuk tenaga , kepercayaan orang lain atau hal lainnya yang bisa kita gunakan.

Jangan di mulai dengan HUTANG. Apalagi kita belum pengalaman mengelola uang hutang. Bagaimanapun usaha yang kita jalankan, untung maupun rugi, hutang harus tetap di bayar. Kecuali kalau kamu dah kebal stress di kejar hutang…. itupun saya tidak menyarankan… hehehehe

Ingat sebelum kita memulai usaha, sebaiknya kita mengetahui dulu usaha yang akan kita jalankan. Cari tahu apa usahanya? Berapa modal awal usahanya? Bagaimana memasarkannya? Siapa pangsa pasarnya? Apa yang menjadi kendalanya? Dimana membeli bahan/barang yang akan di jual? Bagaimana cara menghitung untungnya? Mengapa anda memilih usaha itu atau bagaimana prosfek ke depannya?

Jika sudah di tentukan usahanya apa, modalnya berapa tinggal cari tahu dengan belajar sambil bekerja sama yang punya usaha yang sama. Atau membantu menjualkan produk/barang orang lain. Hasilnya dikumpulkan untuk modal awal usaha, jadi sambil bekerja dan belajar. Hal ini berbeda kalau kita punya modal, bisa ikut kursus usaha yang kita inginkan. Ya kan?”

Kang Dana memotongnya, : “Tapi kan Kang, ada yang bilang kalau dah ada modal langsung saja di mulai usahanya, jangan banyak mikir, nanti malah ga jalan sama sekali, kita bisa belajar sambil menjalankan usaha kita.”

“Hahahahaha…. Ya ya ya ya.” , Kang Hatta tertawa lepas. “Saya setuju, kalau mau usaha ya harus segera dimulai. Tetapi kalau kamu memulai usaha tanpa tahu ilmunya, akan berbeda dengan orang yang usaha tapi tahu ilmunya. Bukankah Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu.

Coba deh kamu sholat jungkir balik tanpa tahu ilmunya sholat bagaimana? Saat ada orang yang bilang, : ” Kang, saya tiap hari sholat jungkir balik, sampai sekarang ga ada manfaatnya.”. Apa yang terjadi, kamu pasti terkena pengaruhnya, padahal orang itu sholat sama seperti kamu tanpa tahu ilmunya. Mungkin kamu berpikir benar juga ngapain saya sholat tapi ga ada manfaatnya. Lebih baik ga usah sholat. Benar kan?

Demikian juga, dengan usaha kamu ini. Ketika kamu sudah menjalankan usaha, ternyata tidak sesuai impianmu. Lantas ada yang bilang, : “Saya dulu usaha seperti ini juga, ga ada untungnya sama sekali. Rugi terus, nombok modal terus. Cape-cape ga ada hasilnya.Udah ganti aja usahamu. Mumpung masih baru.” .

Apa yang terjadi?

Saya yakin akang atau orang itu akan berhenti usahanya. Dan mencari usaha baru lainnya tanpa ilmunya juga, begitu seterusnya dan atau mungkin mengikuti cara usaha yang memperngaruhinya. Kalau dia tidak lelah dan putus asa, mungkin akan belajar dari pengalamannya sendiri dan menemukan usaha berhasil, kalau ga sabaran dan gampang putus asa akhirnya ya kembali ke posisi awal dan menganggap membuka usaha sendiri itu susah…. Padahal usaha yang sedang jalan pun belum kamu lakukan usaha yang maksimal. Ya karena kamu tidak tahu ilmunya itu.

Hehehe maaf ye ga usah tersindir. “

“Sepertinya sudah tengah malam, kita istirahat dulu ya… lain waktu kita lanjut lagi. “

Akhirnya obrolan lapakpun terhenti sampai di sini.

——————STOPPRESS————

————————————————-
Catatan:
Ini mah cerita imajinasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan apapun yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 🙂 . Semua tokoh dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka.

Tidak juga untuk menggurui siapapun. Adapun jika ada yang merasa ada kesamaan cerita atau tokoh itu hanya kebetulan saja, saya mohon maaf.

Terimakasih.

Obrolan Lapak : Hutang Untuk Modal Usaha Bag.2

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi #CeritaZamanNow

oleh Hasannuh BZ

Sambil menyeruput kopinya. Kang Dana terlihat sedang berpikir keras, saat pertanyaannya malah di tembak balik ke dirinya. Kira-kira apa yang akan menjadi jawabannya.

“Begini kang, menurut saya meminjam uang untuk modal usaha itu ada baiknya juga. Minjamnya ke teman atau sodara misalnya, asal jangan minjam uang ke rentenir atau bank yang bunganya berbunga lagi. Daripada harus nunggu duit modal terkumpul terus kapan mulainya.” , jawab Kang Dana.

Dengan sok bijak dan nada yang tenang sambil tersenyum Kang Hatta memberikan penjelasan : “Saya setuju dengan jawaban kamu Kang Dana, jangan minjam uang ke rentenir ataupun bank yang ada bunganya lagi. Saya juga tidak menyarankan, karena ada ‘riba’ dalam pinjaman itu. Ini yang seharusnya kita hindari dalam usaha apalagi baru memulai usaha.

Tetapi bukan berarti saya setuju juga untuk minjam ke teman atau sodara, kenapa? hutang itu pasti harus di bayar, sementara usahanya belum pasti untung terus atau langsung sukses.

Nah kalaupun teman atau sodaranya baik tidak nagih utang terus-terusan, pasti kita atau yang punya utang menjadi malu kalau bertemu dengan yang ngasih pinjaman, Dikiranya mau nagih, akhirnya hubungan dekat menjadi jauh. Hemmm.

Makanya saya menyarankan cobalah memulai usaha dengan modal yang ada dahulu.” .

Kang Dana langsung memotong, “Bagaimana kalau orang itu tidak punya modal buat mulai usaha? Maksudnya tidak punya modal uang untuk mulai buka usaha?”

Saat Kang Hatta minum kopinya yang tinggal sedikit, dan mau memberikan jawaban. Tiba-tiba ada yang mampir dan gabung di lapak, ternyata Kang Dede dia anak muda yang penuh semangat walau masih bekerja tetapi sudah mulai merintis usaha. Langsung saja Kang Hatta menyambutnya dan menodongnya meminta pendapatnya.

“Begini Kang Dede…..” , Kang Hatta menjelaskan kronologisnya dan pertanyaan yang di ajukan Kang Dana.

Kang Dede menjawab juga, sambil sedikit bingung tapi gak linglung, soalnya langsung di minta pendapatnya. Padahal belum pesan kopinya…

“Begini kang, sepengetahuan saya yang namanya modal tidak harus berbentuk uang, kalau mau buka usaha tetapi gak punya modal usahanya. Lebih baik jadi pelaku usaha dulu misalnya jadi reseler menjualkan barang orang lain atau ngikut sama orang dulu atau cari kerjaan. Upah/hasilnya kita tabung untuk modal buka usaha sendiri.

Nah kalau udah punya ilmu nya, udah mampu, udah siap, sudah terkumpul uang modal usaha baru buka usaha dengan modal sendiri yang terkumpul…..

Bisa saja pinjem uang orang lain kalau sudah yakin dengan usahanya, sudah mengetahui resiko terburuk dan terbaik dari usaha itu, mampu, tahu ilmunya, tahu resiko dan cara menanggulanginya, dan juga siap mengelola uang pinjaman. Silahkan saja.

Berdagang itu adegan berbahaya jadi kalau belum yakin jangan di tiru, Hahahaha.”

Ternyata Kang Dede, mantabs juga menjelaskannya. Komplit pake telor dan ati ampela. Kang Hatta langsung memberi isyarat jempol ke atas.

Dan saya juga sudah lelah menceritakannya jadi cerita untuk malam ini di tutup dulu sampai di sini. Nanti dilanjut lagi…


——————STOPPRESS————

Riba adalah penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar.

https://id.wikipedia.org/wiki/Riba————————————————-

Catatan:

Ini mah cerita imajinasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan apapun yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 🙂 . Semua tokoh dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka.

Tidak juga untuk menggurui siapapun. Adapun jika ada yang merasa ada kesamaan cerita atau tokoh itu hanya kebetulan saja, saya mohon maaf.

Terimakasih.

Obrolan Lapak : Hutang Untuk Modal Usaha

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi #CeritaZamanNow

oleh Hasannuh BZ

Malam ini, suasananya mendukung sekali untuk minum kopi, maklum dari pagi sampai sore hujan terus. Jadi malam ini terasa dingin sekali. Sebagian orang menjadi ‘mager’ keluar rumah, lebih memilih tiduran, berbeda dengan Kang Hatta dan Kang Dana yang sudah terlihat minum kopi di lapak biasa. Sementara Kang Tata belum terlihat batang hidungnya sama sekali, biasanya kalau begitu sedang ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan. Maklumlah Kang Tata selalu berprinsip , “Menunda pekerjaan berarti kamu bunuh diri.”

Biasanya acara ‘ngopi bareng’ setelah waktu isya, biar lebih leluasa menuju malamnya. Menurut Kang Dana, kenapa setelah isya ngopinya karena walau sesibuk apapun kita, jangan lupakan sholat. Usahakan tepat waktunya, bila perlu kita yang mengumandangkan adzannya. Mengajak menuju kebaikan kepada orang lain bukankah hal yang baik. Hemmmm.

Tiba-tiba Kang Dana memulai obrolannya….

“Kang, malam ini kita diskusi yang serius ya. Gak apa-apa kita berdua aja dulu. Topiknya tentang hutang untuk usaha. Yaitu dalam memulai usaha sebaiknya di mulai dengan modal yang ada atau kita mencari pinjaman/hutang ke orang lain biar buka langsung besar. Bagaimana pendapat Kang Hatta? ” , tanya Kang Dana to the point.

“Ini menurut pendapat saya ya. Jawabannya singkat, sebaiknya memulai usaha sendiri harus dengan modal yang ada pada kita dulu, jangan pernah dimulai dengan meminjam uang, cari hutangan buat modal. Titik.” , jawab kang Hatta to the point juga.

“Bagaimana kalau orang itu tidak punya modal, kang ? maksudnya tidak punya uang buat buka usaha? apakah orang itu harus menunggu punya uang untuk usaha dulu? bisa kelamaan kang. Bisa-bisa ide usaha dia di ambil orang. Repot dah kalau dah begitu.”

“Terus menurut Kang Dana baiknya seperti apa?”

………………………….????

Sebelum berlanjut ke jawaban Kang Dana dan Kang Hatta. Saya akan meminta pendapat anda dulu, bagaimana menurut pendapat anda?

Apakah mulai dengan modal yang ada atau usahakan cari pinjaman modal? Kalau tidak punya modal bagaimana?

…….sambil menunggu ‘kopi’ nya siap juga ya. 🙂
…….soalnya dari tadi belum pesan kopi. 😀


——————STOPPRESS————
mager = malas gerak (istilah zaman now).

to the point = langsung, langsung ke inti masalah.

imajinasi/ima·ji·na·si/ n 1 daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang; 2 khayalan
https://kbbi.web.id/imajinasi )

————————————————-

Catatan:

Ini mah cerita imajinasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan apapun yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 🙂 . Semua tokoh dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka.

Tidak juga untuk menggurui siapapun. Adapun jika ada yang merasa ada kesamaan cerita atau tokoh itu hanya kebetulan saja, saya mohon maaf.

https://www.facebook.com/InspirasiUsahaAnda/posts/1725975620787280
Terimakasih.

Obrolan Lapak: Antara Omset & Penghargaan Bag. 2

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi #CeritaZamanNow

oleh Hasannuh BZ

“Boleh saya yang berpendapat kang?” kang Tata melanjutkan, “Menurut saya omset dan penghargaan dua-duanya juga penting. Dulu waktu saya masih aktif di bisnis mlm, saya selalu fokus pada pengembangan jaringan intinya mengejar pangkat -penghargaan- tanpa menghiraukan omset, padahal untuk operasional sendiri perlu duit loh apalagi resiko dapur mesti ngebul. Sampai nombok terus… hehehe. Saat akan mengejar omset, jaringan saya sudah lelah kang. Yang akhirnya rontok deh.”

Cerita Kang Tata sambil pandangannya ke atas menghitung bintang di langit, siapa tahu malam ini bintangnya bisa di hitung. Daripada dia mengingat cerita perjuangannya lima tahun yang lalu… -maksudnya perjuangan yang menyedihkan, ditinggal jaringannya… hehehehe.

“Begitu juga dengan usaha sekarang kang, boleh kita mengejar penghargaan tetapi tetap jangan lupakan mengejar omset dan laba usaha. Kan ga bagus, penghargaan di kejar tetapi dapur sendiri morat-marit, masih mending tidak menggunakan duit orang. Kalau pake duit orang – ngutang berbunga lagi. Bisa hancur dah… kembali ke titik nol malah bisa-bisa ke titik di bawah nol alias minus kali. Wkwkwkwkwk.” Kang Tata tertawa hambar serasa merasakan kembali pahitnya hidup yang lalu. 🙂

Tiba-tiba Kang Dana berteriak…

“Benar Kang, Saya setuju sekali ! ” tuh kan.

“Tetapi teman saya ini susah banget di kasih tahunya, tetap aja mengejar penghargaan dengan membuat produk yang kreatif dan inovatif padahal pangsa pasarnya belum tentu bisa laku bisa mendapatkan laba. Menurutnya kalau sudah mendapatkan pengakuan atau penghargaan berarti produknya bagus dan akan gampang memasarkannya pasti banyak juga yang mau bekerja sama. Sampai-sampai berani pinjam uang untuk membuat produk baru, dalam pikirannya, itu adalah perjuangan. Dalam perjuangan perlu pengorbanan. Itulah resiko usaha. Kalau kita tidak berani ambil resiko, jangan ngapa-ngapain, diam aja di rumah begitu katanya.” cerita Kang Dana semangat yang di lapisi kekecewaan sama temannya -uppps kayaknya bukan kecewa sama temannya deh, tapi pas dia lihat kopinya sudah sekarat. Akhirnya tanpa sadar minum kopinya kang Tata deh… 😀

“Emang ada benarnya juga sih. Bagaimana dengan penghasilan atau usaha lainnya selama perjuangan mengejar penghargaan itu?” tanya Kang Tata jadi penasaran. Sambil kelihatan bingung perasaan kopinya masih penuh… kok tinggal seperempat ya. Hemmmmm.

“Ya itu dia, karena waktunya habis fokus ke sana, jadi usaha yang tadinya jalan juga mulai di tinggalkan karena usahanya mulai sepi modalnya menyusut terus di ambil buat dapur ngebul. Sekarang malah bergantung sama istrinya yang masih kerja. Ya gitu deh.” Jawab Kang Dana.

“Bagaimana pendapat Kang Hatta? Malah diam aja dari tadi.” tanya Kang Tata sambil menoleh ke Kang Hatta…

“Setelah saya perhatikan dengan seksama.” Kang Hatta memulai jawabannya yang sok bijak itu. “Tidak perlu ada lagi pendapat dari saya, karena dari pembicaraan akang-akang berdua ini saja sudah bagus tinggal di simpulkan saja sendiri.”

“Yang jadi pemikiran saya….”, Kang Hatta kembali melanjutkan jawaban. “Kalian ini sehat ? Orang lain yang melakukannya dan membuat pilihannya sendiri, kenapa kalian yang sewot. Biarin aja mereka mau mengejar omset dan laba ataupun penghargaan itu kan pilihan mereka. Ngapain pusing-pusing. Sekarang mah siapa yang mau bayarin kopinya?”

Setelah ngomong gitu, Kang Hatta langsung balik kanan. Rupanya jam sudah menunjukkan jam tengah malam, waktunya pulang. Lagian kopinya juga sudah habis. Sementara dua orang lainnya, melongo aja…

Kang Tata dan Kang Dana : “Hoh!!?… #$$%%%#%”

-oOo-

Yuk ah, nanti di lanjut lagi obrolannya ya…
Nyari inspirasi dulu..
Salam Berwirausaha.

Catatan:

Ini mah cerita imagnasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan cerita yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 

Tulisan ini pernah tampil di halaman fb sy : Inspirasi Usaha Anda. Terimakasih

ObrolanLapak : Antara Omset & Penghargaan

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi  #CeritaZamanNow

“ANTARA OMSET & PENGHARGAAN ” oleh Hasannuh BZ

Diceritakan ada 3 orang yang selalu menyempatkan diri ngobrol malam hari ngalor-ngidul sambil ngopi di sebuah lapak namanya Hatta, Tata dan Dana, kadang tidak ada topik sama sekali, hanya saling ejek saja. Atau bahkan tidak ada manfaatnya sama sekali -kecuali bermanfaat bagi yang punya lapak… tentu saja 🙂

-oOo-

Kang Hatta orangnya sok bijak dan suka baper kadang ngeselin – banyakan bapernya daripada bijaknya sih-, setiap kali bicara selalu dimulai dengan mengusap perutnya eh salah meletakkan telunjuk dikeningnya. Seolah sedang berpikir keras, padahal mikir malam ini siapa yang mau bayarin kopinya. 😀

Kang Tata selalu bergaya sebagai seorang motivator sukses -tapi dulu ya-, maklum saja dulunya sering keluar masuk bisnis mlm alias bisnis mulut lewat mulut. Jadi setiap bicara selalu berapi-api kadang bawa-bawa kutipan-kutipan dari buku-buku idolanya dulu.

Kang Dana , kalau ini orangnya selalu manggut-manggut, entah karena paham dengan yang di obrolkan atau karena memang ga ngerti sama sekali. Biar terlihat pintar, dia selalu manggut-manggut dan selalu berkata benar itu saya setuju sekali…

-oOo-
Cerita dimulai…

Biasanya tiap malam ga ada obrolan yang serius tetapi….

Malam ini mah berbeda, topiknya agak serius. Entah karena mendengar dari orang, entah karena curhatan pribadi atau mungkin karena rasa iri. Beda-beda tipislah. Hehehehe

Obrolan malam ini di mulai…

“Kang, saya mau nanya menurut akang yang bijak, mana yang paling penting dalam sebuah usaha, apakah omset dan laba besar sedikit pernghargaan atau omsetnya ga tentu tapi banyak penghargaan?” celetuk Kang Dana.

“Sebentar kelihatannya ini agak serius, saya mau nanya dulu, Kang Dana ini kenapa punya pertanyaan seperti itu? Apakah karena selama ini usaha akang selalu dapat penghargaan tetapi usaha akang stagnan?” analisis Kang Tata.

“Ya gak begitu juga kang, ini mah curhatan beberapa teman saya aja. Siapa tahu akang ini punya pendapat lain? Alangkah baiknya obrolan yang tidak bermanfaat kita arahkan ke hal-hal yang bermanfaat. Setuju kan kang?” Kang Dana ngeles.

“Luarbiasa anda ini. Pemikiran yang sangat positif. Orang yang selalu berpikir positif seperti kang Dana ini, suatu saat anda akan jadi orang. Lanjutkan.” lanjut Kang Tata ( mungkin selama ini belum jadi orang…wkwkwkwk )

——————————————————–
STOP PRESS!

stagnan adalah kondisi yang terhenti, selalu tetap tanpa menunjukan kemajuan yang berarti.

ngeles : menghindar , bukan les belajar ya.
—————————————————–

Sambil menunggu Kang Hatta menjawab dengan teori yang sok bijaknya, siapa tahu ada yang mau kasih jawaban duluan… 😀

==>Tunggu Episode Selanjutnya.


Catatan:
Ini mah cerita imagnasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan cerita yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 🙂

Tulisan ini pernah tampil di halaman fb sy : Inspirasi Usaha Anda. Terimakasih

Cerita Seputar Usaha

#TukangSendal

“SENDAL” oleh Hasannuh BZ

Beberapa hari yang lalu saya beli sendal baru. Sebenarnya sih mau beli sendalnya tidak hari itu. Tetapi karena ada yang lucu dari cara jualan tukang sendalnya. Jadi deh beli sendal baru.

Lucu dan menyedihkan sebenarnya. Mungkin di antara pembaca ada yang pernah bertemu dengan tukang sendal keliling ini, biasanya menawarkan dagangannya dengan ‘menyedihkan’ bercerita bahwa dagangan nya belum laku dari pagi, belum makan nasi dan cerita menyedihkan lainnya.

Hemmmm…

“Modus aja itu mah”: mungkin anda akan bilang seperti itu.
“Penipuan” atau “Sebutan jelek lainnya”. Dan ternyata menjadi viral di salah satu grup fb, dimana ada member yang merasa iba dengan cerita si tukang sandal ini, membeli sandalnya dan akhirnya mempostingnya di grup, siapa tahu ada yang mau membeli dagangannya.

Dan ternyata – ternyata … banyak cerita-cerita miring tentang tukang sandal itu. Ada yang merasa kasihan akhirnya patungan ngasih ongkos buat tukang sandal itu (kena jebakan kasihan).

Menurut saya, bagaimanapun cara seorang penjual menawarkan dagangannya agar terjual, itu sah-sah saja. Termasuk tukang sendal ini yang menjual cerita kesedihannya padahal ceritanya benar atau tidak , kita tidak tahu.

Sebagai pembeli, saya harus tetap berpikir cerdas, kalau saya mau beli bukan karena ‘rasa kasihan’ , tetapi ada beberapa hal yang membuat saya memutuskan membelinya.

Pada hari itu saya membelinya karena memang ada niat beli sendal, kedua harganya yang wajar, ketiga duitnya ada. Jadi biasa aja, bukan modus penipuan, kan mereka jualan walaupun caranya yang salah (menjual; kesedihan).

Saya malah tidak setuju, kalau anda malah memberinya uang karena kasihan bukan membeli sendalnya. Karena menurut saya justru itu malah mendidiknya menjadi pemalas. Walaupun anda ikhlas dalam memberinya, tetapi kalau cerita itu tidak benar -biasanya tidak benar- dia akan melakukan lagi dan lagi pada orang lain yang merasa kasihan sama seperti anda.

Barangnya gak laku bisa di kembalikan ke bos-nya, sementara dia dapat uang dari mengumpulkan rasa kasihan anda.

Salam Wirausaha Sukses