Obrolan Lapak : Hutang Untuk Modal Usaha Bag.3

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi #CeritaZamanNow

oleh Hasannuh BZ

Cerita kemarin belum selesai karena Kang Hatta belum memberikan jawaban dan alasannya. Jadi Kang Dana juga masih penasaran, apalagi yang punya lapak Kang Dudung yang selalu curi-curi dengar sambil melayani pembelinya.

Kang Hatta melanjutkan, “Saya setuju dengan kata Kang Dede. Sebaiknya memang kalau memulai usaha itu di mulai dari modal sendiri, modal bisa berbentuk tenaga , kepercayaan orang lain atau hal lainnya yang bisa kita gunakan.

Jangan di mulai dengan HUTANG. Apalagi kita belum pengalaman mengelola uang hutang. Bagaimanapun usaha yang kita jalankan, untung maupun rugi, hutang harus tetap di bayar. Kecuali kalau kamu dah kebal stress di kejar hutang…. itupun saya tidak menyarankan… hehehehe

Ingat sebelum kita memulai usaha, sebaiknya kita mengetahui dulu usaha yang akan kita jalankan. Cari tahu apa usahanya? Berapa modal awal usahanya? Bagaimana memasarkannya? Siapa pangsa pasarnya? Apa yang menjadi kendalanya? Dimana membeli bahan/barang yang akan di jual? Bagaimana cara menghitung untungnya? Mengapa anda memilih usaha itu atau bagaimana prosfek ke depannya?

Jika sudah di tentukan usahanya apa, modalnya berapa tinggal cari tahu dengan belajar sambil bekerja sama yang punya usaha yang sama. Atau membantu menjualkan produk/barang orang lain. Hasilnya dikumpulkan untuk modal awal usaha, jadi sambil bekerja dan belajar. Hal ini berbeda kalau kita punya modal, bisa ikut kursus usaha yang kita inginkan. Ya kan?”

Kang Dana memotongnya, : “Tapi kan Kang, ada yang bilang kalau dah ada modal langsung saja di mulai usahanya, jangan banyak mikir, nanti malah ga jalan sama sekali, kita bisa belajar sambil menjalankan usaha kita.”

“Hahahahaha…. Ya ya ya ya.” , Kang Hatta tertawa lepas. “Saya setuju, kalau mau usaha ya harus segera dimulai. Tetapi kalau kamu memulai usaha tanpa tahu ilmunya, akan berbeda dengan orang yang usaha tapi tahu ilmunya. Bukankah Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu.

Coba deh kamu sholat jungkir balik tanpa tahu ilmunya sholat bagaimana? Saat ada orang yang bilang, : ” Kang, saya tiap hari sholat jungkir balik, sampai sekarang ga ada manfaatnya.”. Apa yang terjadi, kamu pasti terkena pengaruhnya, padahal orang itu sholat sama seperti kamu tanpa tahu ilmunya. Mungkin kamu berpikir benar juga ngapain saya sholat tapi ga ada manfaatnya. Lebih baik ga usah sholat. Benar kan?

Demikian juga, dengan usaha kamu ini. Ketika kamu sudah menjalankan usaha, ternyata tidak sesuai impianmu. Lantas ada yang bilang, : “Saya dulu usaha seperti ini juga, ga ada untungnya sama sekali. Rugi terus, nombok modal terus. Cape-cape ga ada hasilnya.Udah ganti aja usahamu. Mumpung masih baru.” .

Apa yang terjadi?

Saya yakin akang atau orang itu akan berhenti usahanya. Dan mencari usaha baru lainnya tanpa ilmunya juga, begitu seterusnya dan atau mungkin mengikuti cara usaha yang memperngaruhinya. Kalau dia tidak lelah dan putus asa, mungkin akan belajar dari pengalamannya sendiri dan menemukan usaha berhasil, kalau ga sabaran dan gampang putus asa akhirnya ya kembali ke posisi awal dan menganggap membuka usaha sendiri itu susah…. Padahal usaha yang sedang jalan pun belum kamu lakukan usaha yang maksimal. Ya karena kamu tidak tahu ilmunya itu.

Hehehe maaf ye ga usah tersindir. “

“Sepertinya sudah tengah malam, kita istirahat dulu ya… lain waktu kita lanjut lagi. “

Akhirnya obrolan lapakpun terhenti sampai di sini.

——————STOPPRESS————

————————————————-
Catatan:
Ini mah cerita imajinasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan apapun yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 🙂 . Semua tokoh dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka.

Tidak juga untuk menggurui siapapun. Adapun jika ada yang merasa ada kesamaan cerita atau tokoh itu hanya kebetulan saja, saya mohon maaf.

Terimakasih.

Obrolan Lapak : Hutang Untuk Modal Usaha Bag.2

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi #CeritaZamanNow

oleh Hasannuh BZ

Sambil menyeruput kopinya. Kang Dana terlihat sedang berpikir keras, saat pertanyaannya malah di tembak balik ke dirinya. Kira-kira apa yang akan menjadi jawabannya.

“Begini kang, menurut saya meminjam uang untuk modal usaha itu ada baiknya juga. Minjamnya ke teman atau sodara misalnya, asal jangan minjam uang ke rentenir atau bank yang bunganya berbunga lagi. Daripada harus nunggu duit modal terkumpul terus kapan mulainya.” , jawab Kang Dana.

Dengan sok bijak dan nada yang tenang sambil tersenyum Kang Hatta memberikan penjelasan : “Saya setuju dengan jawaban kamu Kang Dana, jangan minjam uang ke rentenir ataupun bank yang ada bunganya lagi. Saya juga tidak menyarankan, karena ada ‘riba’ dalam pinjaman itu. Ini yang seharusnya kita hindari dalam usaha apalagi baru memulai usaha.

Tetapi bukan berarti saya setuju juga untuk minjam ke teman atau sodara, kenapa? hutang itu pasti harus di bayar, sementara usahanya belum pasti untung terus atau langsung sukses.

Nah kalaupun teman atau sodaranya baik tidak nagih utang terus-terusan, pasti kita atau yang punya utang menjadi malu kalau bertemu dengan yang ngasih pinjaman, Dikiranya mau nagih, akhirnya hubungan dekat menjadi jauh. Hemmm.

Makanya saya menyarankan cobalah memulai usaha dengan modal yang ada dahulu.” .

Kang Dana langsung memotong, “Bagaimana kalau orang itu tidak punya modal buat mulai usaha? Maksudnya tidak punya modal uang untuk mulai buka usaha?”

Saat Kang Hatta minum kopinya yang tinggal sedikit, dan mau memberikan jawaban. Tiba-tiba ada yang mampir dan gabung di lapak, ternyata Kang Dede dia anak muda yang penuh semangat walau masih bekerja tetapi sudah mulai merintis usaha. Langsung saja Kang Hatta menyambutnya dan menodongnya meminta pendapatnya.

“Begini Kang Dede…..” , Kang Hatta menjelaskan kronologisnya dan pertanyaan yang di ajukan Kang Dana.

Kang Dede menjawab juga, sambil sedikit bingung tapi gak linglung, soalnya langsung di minta pendapatnya. Padahal belum pesan kopinya…

“Begini kang, sepengetahuan saya yang namanya modal tidak harus berbentuk uang, kalau mau buka usaha tetapi gak punya modal usahanya. Lebih baik jadi pelaku usaha dulu misalnya jadi reseler menjualkan barang orang lain atau ngikut sama orang dulu atau cari kerjaan. Upah/hasilnya kita tabung untuk modal buka usaha sendiri.

Nah kalau udah punya ilmu nya, udah mampu, udah siap, sudah terkumpul uang modal usaha baru buka usaha dengan modal sendiri yang terkumpul…..

Bisa saja pinjem uang orang lain kalau sudah yakin dengan usahanya, sudah mengetahui resiko terburuk dan terbaik dari usaha itu, mampu, tahu ilmunya, tahu resiko dan cara menanggulanginya, dan juga siap mengelola uang pinjaman. Silahkan saja.

Berdagang itu adegan berbahaya jadi kalau belum yakin jangan di tiru, Hahahaha.”

Ternyata Kang Dede, mantabs juga menjelaskannya. Komplit pake telor dan ati ampela. Kang Hatta langsung memberi isyarat jempol ke atas.

Dan saya juga sudah lelah menceritakannya jadi cerita untuk malam ini di tutup dulu sampai di sini. Nanti dilanjut lagi…


——————STOPPRESS————

Riba adalah penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar.

https://id.wikipedia.org/wiki/Riba————————————————-

Catatan:

Ini mah cerita imajinasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan apapun yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 🙂 . Semua tokoh dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka.

Tidak juga untuk menggurui siapapun. Adapun jika ada yang merasa ada kesamaan cerita atau tokoh itu hanya kebetulan saja, saya mohon maaf.

Terimakasih.

Obrolan Lapak : Hutang Untuk Modal Usaha

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi #CeritaZamanNow

oleh Hasannuh BZ

Malam ini, suasananya mendukung sekali untuk minum kopi, maklum dari pagi sampai sore hujan terus. Jadi malam ini terasa dingin sekali. Sebagian orang menjadi ‘mager’ keluar rumah, lebih memilih tiduran, berbeda dengan Kang Hatta dan Kang Dana yang sudah terlihat minum kopi di lapak biasa. Sementara Kang Tata belum terlihat batang hidungnya sama sekali, biasanya kalau begitu sedang ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan. Maklumlah Kang Tata selalu berprinsip , “Menunda pekerjaan berarti kamu bunuh diri.”

Biasanya acara ‘ngopi bareng’ setelah waktu isya, biar lebih leluasa menuju malamnya. Menurut Kang Dana, kenapa setelah isya ngopinya karena walau sesibuk apapun kita, jangan lupakan sholat. Usahakan tepat waktunya, bila perlu kita yang mengumandangkan adzannya. Mengajak menuju kebaikan kepada orang lain bukankah hal yang baik. Hemmmm.

Tiba-tiba Kang Dana memulai obrolannya….

“Kang, malam ini kita diskusi yang serius ya. Gak apa-apa kita berdua aja dulu. Topiknya tentang hutang untuk usaha. Yaitu dalam memulai usaha sebaiknya di mulai dengan modal yang ada atau kita mencari pinjaman/hutang ke orang lain biar buka langsung besar. Bagaimana pendapat Kang Hatta? ” , tanya Kang Dana to the point.

“Ini menurut pendapat saya ya. Jawabannya singkat, sebaiknya memulai usaha sendiri harus dengan modal yang ada pada kita dulu, jangan pernah dimulai dengan meminjam uang, cari hutangan buat modal. Titik.” , jawab kang Hatta to the point juga.

“Bagaimana kalau orang itu tidak punya modal, kang ? maksudnya tidak punya uang buat buka usaha? apakah orang itu harus menunggu punya uang untuk usaha dulu? bisa kelamaan kang. Bisa-bisa ide usaha dia di ambil orang. Repot dah kalau dah begitu.”

“Terus menurut Kang Dana baiknya seperti apa?”

………………………….????

Sebelum berlanjut ke jawaban Kang Dana dan Kang Hatta. Saya akan meminta pendapat anda dulu, bagaimana menurut pendapat anda?

Apakah mulai dengan modal yang ada atau usahakan cari pinjaman modal? Kalau tidak punya modal bagaimana?

…….sambil menunggu ‘kopi’ nya siap juga ya. 🙂
…….soalnya dari tadi belum pesan kopi. 😀


——————STOPPRESS————
mager = malas gerak (istilah zaman now).

to the point = langsung, langsung ke inti masalah.

imajinasi/ima·ji·na·si/ n 1 daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang; 2 khayalan
https://kbbi.web.id/imajinasi )

————————————————-

Catatan:

Ini mah cerita imajinasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan apapun yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 🙂 . Semua tokoh dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka.

Tidak juga untuk menggurui siapapun. Adapun jika ada yang merasa ada kesamaan cerita atau tokoh itu hanya kebetulan saja, saya mohon maaf.

https://www.facebook.com/InspirasiUsahaAnda/posts/1725975620787280
Terimakasih.

Obrolan Lapak: Antara Omset & Penghargaan Bag. 2

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi #CeritaZamanNow

oleh Hasannuh BZ

“Boleh saya yang berpendapat kang?” kang Tata melanjutkan, “Menurut saya omset dan penghargaan dua-duanya juga penting. Dulu waktu saya masih aktif di bisnis mlm, saya selalu fokus pada pengembangan jaringan intinya mengejar pangkat -penghargaan- tanpa menghiraukan omset, padahal untuk operasional sendiri perlu duit loh apalagi resiko dapur mesti ngebul. Sampai nombok terus… hehehe. Saat akan mengejar omset, jaringan saya sudah lelah kang. Yang akhirnya rontok deh.”

Cerita Kang Tata sambil pandangannya ke atas menghitung bintang di langit, siapa tahu malam ini bintangnya bisa di hitung. Daripada dia mengingat cerita perjuangannya lima tahun yang lalu… -maksudnya perjuangan yang menyedihkan, ditinggal jaringannya… hehehehe.

“Begitu juga dengan usaha sekarang kang, boleh kita mengejar penghargaan tetapi tetap jangan lupakan mengejar omset dan laba usaha. Kan ga bagus, penghargaan di kejar tetapi dapur sendiri morat-marit, masih mending tidak menggunakan duit orang. Kalau pake duit orang – ngutang berbunga lagi. Bisa hancur dah… kembali ke titik nol malah bisa-bisa ke titik di bawah nol alias minus kali. Wkwkwkwkwk.” Kang Tata tertawa hambar serasa merasakan kembali pahitnya hidup yang lalu. 🙂

Tiba-tiba Kang Dana berteriak…

“Benar Kang, Saya setuju sekali ! ” tuh kan.

“Tetapi teman saya ini susah banget di kasih tahunya, tetap aja mengejar penghargaan dengan membuat produk yang kreatif dan inovatif padahal pangsa pasarnya belum tentu bisa laku bisa mendapatkan laba. Menurutnya kalau sudah mendapatkan pengakuan atau penghargaan berarti produknya bagus dan akan gampang memasarkannya pasti banyak juga yang mau bekerja sama. Sampai-sampai berani pinjam uang untuk membuat produk baru, dalam pikirannya, itu adalah perjuangan. Dalam perjuangan perlu pengorbanan. Itulah resiko usaha. Kalau kita tidak berani ambil resiko, jangan ngapa-ngapain, diam aja di rumah begitu katanya.” cerita Kang Dana semangat yang di lapisi kekecewaan sama temannya -uppps kayaknya bukan kecewa sama temannya deh, tapi pas dia lihat kopinya sudah sekarat. Akhirnya tanpa sadar minum kopinya kang Tata deh… 😀

“Emang ada benarnya juga sih. Bagaimana dengan penghasilan atau usaha lainnya selama perjuangan mengejar penghargaan itu?” tanya Kang Tata jadi penasaran. Sambil kelihatan bingung perasaan kopinya masih penuh… kok tinggal seperempat ya. Hemmmmm.

“Ya itu dia, karena waktunya habis fokus ke sana, jadi usaha yang tadinya jalan juga mulai di tinggalkan karena usahanya mulai sepi modalnya menyusut terus di ambil buat dapur ngebul. Sekarang malah bergantung sama istrinya yang masih kerja. Ya gitu deh.” Jawab Kang Dana.

“Bagaimana pendapat Kang Hatta? Malah diam aja dari tadi.” tanya Kang Tata sambil menoleh ke Kang Hatta…

“Setelah saya perhatikan dengan seksama.” Kang Hatta memulai jawabannya yang sok bijak itu. “Tidak perlu ada lagi pendapat dari saya, karena dari pembicaraan akang-akang berdua ini saja sudah bagus tinggal di simpulkan saja sendiri.”

“Yang jadi pemikiran saya….”, Kang Hatta kembali melanjutkan jawaban. “Kalian ini sehat ? Orang lain yang melakukannya dan membuat pilihannya sendiri, kenapa kalian yang sewot. Biarin aja mereka mau mengejar omset dan laba ataupun penghargaan itu kan pilihan mereka. Ngapain pusing-pusing. Sekarang mah siapa yang mau bayarin kopinya?”

Setelah ngomong gitu, Kang Hatta langsung balik kanan. Rupanya jam sudah menunjukkan jam tengah malam, waktunya pulang. Lagian kopinya juga sudah habis. Sementara dua orang lainnya, melongo aja…

Kang Tata dan Kang Dana : “Hoh!!?… #$$%%%#%”

-oOo-

Yuk ah, nanti di lanjut lagi obrolannya ya…
Nyari inspirasi dulu..
Salam Berwirausaha.

Catatan:

Ini mah cerita imagnasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan cerita yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 

Tulisan ini pernah tampil di halaman fb sy : Inspirasi Usaha Anda. Terimakasih

ObrolanLapak : Antara Omset & Penghargaan

#ObrolanLapak #CeritaImaginasi  #CeritaZamanNow

“ANTARA OMSET & PENGHARGAAN ” oleh Hasannuh BZ

Diceritakan ada 3 orang yang selalu menyempatkan diri ngobrol malam hari ngalor-ngidul sambil ngopi di sebuah lapak namanya Hatta, Tata dan Dana, kadang tidak ada topik sama sekali, hanya saling ejek saja. Atau bahkan tidak ada manfaatnya sama sekali -kecuali bermanfaat bagi yang punya lapak… tentu saja 🙂

-oOo-

Kang Hatta orangnya sok bijak dan suka baper kadang ngeselin – banyakan bapernya daripada bijaknya sih-, setiap kali bicara selalu dimulai dengan mengusap perutnya eh salah meletakkan telunjuk dikeningnya. Seolah sedang berpikir keras, padahal mikir malam ini siapa yang mau bayarin kopinya. 😀

Kang Tata selalu bergaya sebagai seorang motivator sukses -tapi dulu ya-, maklum saja dulunya sering keluar masuk bisnis mlm alias bisnis mulut lewat mulut. Jadi setiap bicara selalu berapi-api kadang bawa-bawa kutipan-kutipan dari buku-buku idolanya dulu.

Kang Dana , kalau ini orangnya selalu manggut-manggut, entah karena paham dengan yang di obrolkan atau karena memang ga ngerti sama sekali. Biar terlihat pintar, dia selalu manggut-manggut dan selalu berkata benar itu saya setuju sekali…

-oOo-
Cerita dimulai…

Biasanya tiap malam ga ada obrolan yang serius tetapi….

Malam ini mah berbeda, topiknya agak serius. Entah karena mendengar dari orang, entah karena curhatan pribadi atau mungkin karena rasa iri. Beda-beda tipislah. Hehehehe

Obrolan malam ini di mulai…

“Kang, saya mau nanya menurut akang yang bijak, mana yang paling penting dalam sebuah usaha, apakah omset dan laba besar sedikit pernghargaan atau omsetnya ga tentu tapi banyak penghargaan?” celetuk Kang Dana.

“Sebentar kelihatannya ini agak serius, saya mau nanya dulu, Kang Dana ini kenapa punya pertanyaan seperti itu? Apakah karena selama ini usaha akang selalu dapat penghargaan tetapi usaha akang stagnan?” analisis Kang Tata.

“Ya gak begitu juga kang, ini mah curhatan beberapa teman saya aja. Siapa tahu akang ini punya pendapat lain? Alangkah baiknya obrolan yang tidak bermanfaat kita arahkan ke hal-hal yang bermanfaat. Setuju kan kang?” Kang Dana ngeles.

“Luarbiasa anda ini. Pemikiran yang sangat positif. Orang yang selalu berpikir positif seperti kang Dana ini, suatu saat anda akan jadi orang. Lanjutkan.” lanjut Kang Tata ( mungkin selama ini belum jadi orang…wkwkwkwk )

——————————————————–
STOP PRESS!

stagnan adalah kondisi yang terhenti, selalu tetap tanpa menunjukan kemajuan yang berarti.

ngeles : menghindar , bukan les belajar ya.
—————————————————–

Sambil menunggu Kang Hatta menjawab dengan teori yang sok bijaknya, siapa tahu ada yang mau kasih jawaban duluan… 😀

==>Tunggu Episode Selanjutnya.


Catatan:
Ini mah cerita imagnasi saya saja, tidak ada sangkut pautnya dengan cerita yang tersangkut dengan cerita ini, Baik tokoh dalam cerita ini, foto ataupun topiknya. 🙂

Tulisan ini pernah tampil di halaman fb sy : Inspirasi Usaha Anda. Terimakasih

Cerita Seputar Usaha

#TukangSendal

“SENDAL” oleh Hasannuh BZ

Beberapa hari yang lalu saya beli sendal baru. Sebenarnya sih mau beli sendalnya tidak hari itu. Tetapi karena ada yang lucu dari cara jualan tukang sendalnya. Jadi deh beli sendal baru.

Lucu dan menyedihkan sebenarnya. Mungkin di antara pembaca ada yang pernah bertemu dengan tukang sendal keliling ini, biasanya menawarkan dagangannya dengan ‘menyedihkan’ bercerita bahwa dagangan nya belum laku dari pagi, belum makan nasi dan cerita menyedihkan lainnya.

Hemmmm…

“Modus aja itu mah”: mungkin anda akan bilang seperti itu.
“Penipuan” atau “Sebutan jelek lainnya”. Dan ternyata menjadi viral di salah satu grup fb, dimana ada member yang merasa iba dengan cerita si tukang sandal ini, membeli sandalnya dan akhirnya mempostingnya di grup, siapa tahu ada yang mau membeli dagangannya.

Dan ternyata – ternyata … banyak cerita-cerita miring tentang tukang sandal itu. Ada yang merasa kasihan akhirnya patungan ngasih ongkos buat tukang sandal itu (kena jebakan kasihan).

Menurut saya, bagaimanapun cara seorang penjual menawarkan dagangannya agar terjual, itu sah-sah saja. Termasuk tukang sendal ini yang menjual cerita kesedihannya padahal ceritanya benar atau tidak , kita tidak tahu.

Sebagai pembeli, saya harus tetap berpikir cerdas, kalau saya mau beli bukan karena ‘rasa kasihan’ , tetapi ada beberapa hal yang membuat saya memutuskan membelinya.

Pada hari itu saya membelinya karena memang ada niat beli sendal, kedua harganya yang wajar, ketiga duitnya ada. Jadi biasa aja, bukan modus penipuan, kan mereka jualan walaupun caranya yang salah (menjual; kesedihan).

Saya malah tidak setuju, kalau anda malah memberinya uang karena kasihan bukan membeli sendalnya. Karena menurut saya justru itu malah mendidiknya menjadi pemalas. Walaupun anda ikhlas dalam memberinya, tetapi kalau cerita itu tidak benar -biasanya tidak benar- dia akan melakukan lagi dan lagi pada orang lain yang merasa kasihan sama seperti anda.

Barangnya gak laku bisa di kembalikan ke bos-nya, sementara dia dapat uang dari mengumpulkan rasa kasihan anda.

Salam Wirausaha Sukses

Inget Kana Dosa

Sok hayang seuri mun inget kana dosa. Uing sok hayang menta hampura, hampura, hampura bisi jeung bilih uing pondok umur. Da ngaranna umur mah euweuh nu nyaho. Bisa jadi saeunggeus nulis status ieu teh tuluy langsung maot. Atawa keur nulis keneh langsung ‘out’ .Mending weh ari geus menta hampura.

Sok hayang menta hampura ka indung jeung bapak nepi ka teu ayana uing can bisa nyenangkeun kolot, komo nyumponan kana kahayang kolot mah. Sedih uing…

Sok hayang menta hampura terutama ka anaking jeung pamajikan nu can pernah di bawa senang da ari kasusah mah geus puguh. Da kumaha lain teu hayang ngajak senang ngan manggihna ka susah wae. Eta ge sugan. Da ceuk uing mah bersyukur hirup teu susah teuing kos batur, ceuk uing mah kasusah teh kawas ‘fatamorgana’ katempona aya tapi can manggihan.

Sok hayang menta hampura ka duduluran uing nu geus lila tara silaturahmi pisan. Sabarang kolot euweuh teh malah tara pisan silaturahmi. Sedih meureunnya indung jeung bapak uing ningali kalakuan uing kos kieu. Hampura ibu bapàk uing can bisa jadi anak soleh. Hampura ka sodara² uing, ka dulur² uing. Uing can bisa jadi picontoeun nu bener.

Sok hayang menta hampura ka guru² uing baheula sok badeur atawa ngalawan. Sedih uing mun ingeut kàna jaman harita mah. Hampura bapak ibu guru uing.

Sok hayang menta hàmpura ka babaturan uing boh baturan nu baheula atawa babaturan nu anyar² maklum uing sok heureuy kamalinaan.

Sok hayang menta hampura ka dunungan² di gawe uing. Alhamdulillah boga dunungan teh balager wae ti awal digawe baheula nepi kaayeuna ge, padahal uing sok korupsi, lain korupsi duit tapi korupsi waktu. Waktuna kerja kadang uing sok hees, kadang migawean pagawean sorangan, kadang can sok lalajo yutub an, maen facebook…. hampura nya bos.

Komo deui uing sok hayang menta hampura ka nu sok kahutangan ku uing. Boh hutang pagawean nu can anggeus atawa kahutangan duit nu can di bayar. Hampura weh mun uing pondok umur mah lunas weh nya, tong nagih. 😁 mun rek nagih mah ayeuna weh… ngan uing can bisa mayarna. 🤣

Hampura… hampura… hampura

Weh ayeuna keneh mumpung uing masih aya. Daripada nungguan uing pondok umur mah.

Alhamdulillah.