Konsekuen terhadap hasil yang saya pilih…

18 10 2009

Saya memang bebas untuk memilih, memilih jalan hidup saya, memilih pekerjaan saya, memilih bisnis saya,memilih pendamping hidup saya, memilih teman saya, memilih rekan kerja saya, memilih apapun saya bebas memilih… terlepas dari pilihan saya itu baik ataupun buruk.

Tetapi kadang saya tidak bisa memilih terhadap “hasil” dari pilihan yang saya pilih, untuk itu saya harus konsekuen terhadap hasil apapun yang saya pilih…

Selamat memilih!





Merasa tidak enak karena hutang budi…

28 05 2009

Hutang budi sampai kapanpun tidak bakal bisa anda bayar..

Kalo anda berpikir tentang hutang budi sampai kapanpun anda akan tetap berhutang budi… sampai ajal mungkin. Terus terang saja… sama dengan saya… merasa tidak enak… tapi sy yakin pabila kita bisa menerangkannya , memberikan penjelasan. niscaya orang yang menaruh budi pada kita akan berjiwa besar, yang membuat merasa tidak enak hanyalah diri kita. belum tentu orang yang menaruh budi pada anda merasakannya juga…

Jadi solusinya kita harus berterus terang…
dan berani mengatakan tidak untuk saat ini…

Jadi katakan…
dengan sopan bukan anda melupakan kebaikannya selama ini.
hanya saja… anda juga harus bisa memilih.

Tahukah anda …
Saya selama 13 tahun ini selalu hidup…
dalam keadaan merasa tidak enak…
sampai tidak memikirkan kebahagian keluarga ..
orang tua, istri,anak,saudara…
karena hal sepele…
sy tidak berani…

Tidak berani mengatakan….
karena merasa berhutang budi, padahal orang itu tidak pernah menaruh budi pada kita….
dan seharusnya mereka juga merasakan berhutang budi pada kita karena kita sudah memberikan kebebasan kita padanya.

Bukan hanya kita saja….
kalo anda merasa berhutang budi sama orang lain…
lantas apa yang sudah anda lakukan untuk membayar hutang budi pada orang tua anda, pada ibu dan bapak anda….? apa?

Dibandingkan dengan orang tua anda…
mereka tidak ada apa-apanya…

Maaf…
Mungkin anda masih di berikan kesempatan untuk berbuat lebih baik pada kedua orang tua anda…
jangan sampai seperti saya…
yang saat ini hanya di berikan kesempatan untuk mengirimkan doa saja…
dan itupun tidak ada garansi sampai pada orang tua sy…

JADI MULAI SAAT INI…

PUTUSKAN!!!!

Fokus Utama anda adalah memberikan kebahagian kepada orang tua anda… niscaya sukses usaha dan bisnis maupun rejeki akan mendekati anda… sy jadi sedih nih…

INGAT ANDA MEMPUNYAI HUTANG BUDI YANG TIDAK BISA ANDA BAYAR DENGAN APAPUN KEPADA KEDUA ORANG TUA ANDA… DAN SAAT INI ANDA MASIH DIBERIKAN KESEMPATAN…..

saya serius….!!!!

***
Teruntuk sahabatku yang selama ini
memberikan inspirasi dan dukungan.





“Underestimate” apaan tuh?

9 12 2008

Hari ini saya jadi penasaran dengan kata “underestimate”, yang biasanya saya dengar dari Empat Mata-nya Mas Tukul Arwana, eh maaf Empat Mata sudah di larang sekarang jadi [Bukan] Empat mata — kok bisa ya :) — penasaran dengan kata “underestimate” ini dan ingin tahu arti yang sebenarnya akhirnya saya cari tahu kamus online melalui paman google.

Binggo! Akhirnya dapat juga!

Underestimate=memperkecil,mengabaikan,meremehkan.
underestimate

Kemarin saya mendapat telepon dari orang yang selama ini selalu mensupport, memotivasi, menginspirasi saya untuk tetap optimis.

“San, kamu tahu kesalahan kita selama ini adalah kita selalu “underestimate” terhadap diri kita sendiri padahal kita belum pernah mencobanya. Kita selalu menghakimi diri kita sendiri dengan pernyataan yang justru membuat diri kita makin terpuruk. Sekarang saya tanya sama kamu; “Apakah kamu berkesimpulan tidak bisa menjual produk yang mahal sudah kamu tawarkan kepada orang lain? Berapa orang yang kamu tawarkan?”

“Belum Pak. Baru mau mencoba saja.”

….

Saya sadar, ternyata selama ini saya memang meremehkan kemampuan yang ada pada diri saya sendiri. Padahal saya belum pernah mencobanya…

Tanpa disadari ternyata saya sendiri selalu ‘underestimate/meremehkan’ terhadap diri saya sendiri. Saya kadang selalu merasa apakah saya mampu? Apakah saya bisa? Misalnya saja pada saat saya ditawarkan menjual suplemen kesehatan yang harganya bisa mencapai Rp 600.000,- per 60 kapsul (biasanya saya menjual suplemen yang paling mahal sekitar Rp 100.000,- per 60 kapsul). Apa yang pertama kali ada dalam pikiran saya? “Apakah saya bisa menjual produk ini?” pasti keraguan akan lebih dulu menyerang pikiran saya. Saya sudah mengunderestimate-kan orang lain. Yang ada dalam pikiran saya adalah “Produk ini terlalu mahal mana ada yang mau beli.”

Saya tahu pikiran seperti itu akan merusak otak dan pikiran, seharusnyalah kita percaya diri karena itulah yang saya dapatkan dari buku-buku pengembangan diri. Itulah yang saya dapatkan dari orang-orang yang selalu optimis. Dan itulah yang saya dapatkan di sekitar orang-orang yang sukses.

Setelah saya melakukan aksi mencoba menawarkan pada orang yang memang sangat membutuhkan, tidak sulit hanya dalam 30 menit sudah terjadi transaksi penjualan. Pada awalnya saya pikir orang yang saya tawarkan itu kelihatan tidak akan mampu membeli suplemen seharga Rp 600.000,- –underestimate–. Tapi ternyata…

Sebelumnya saya bertanya; “Bu, barang yang saya tawarkan ini mahal?”

Apa jawabnya; “Nak, kalau memang barang ini bagus untuk kesehatan tidak masalah berapapun harganya ibu akan beli.”

Apa yang bisa saya simpulkan dari kejadian itu:

1. Jangan pernah “underestimate’ terhadap diri sendiri maupun orang lain.

2. Terjadinya transaksi penjualan diatas karena saya dapat menyentuh ‘hot button’ atau saya menawarkan tepat kepada orang yang memang sangat membutuhkan.

***Orang yang sangat membutuhkan adalah orang yang melakukan usaha apa saja asalkan kebutuhannya terpenuhi.*** -kata-kata siapa ini ya?

Luar Biasa!

Apakah ANDA juga “underestimate” terhadap diri anda? TIDAK PERNAH? Bagaimana kalau ada orang yang menawarkan peluang usaha dengan menawarkan produk berupa gelang atau kalung seharga jutaan rupiah. Apakah anda akan menjawab; “Saya Juga Pasti Bisa!”.